Islam di Spanyol dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Renainssance di Eropa
Yang mau filenya langsung download di sini.
Makalah oleh :
Alifiah
Rizki Utami
|
Laellindini
Ardy
|
Dwita
Cahaya Pratiwi
|
Ghea
Firsty Nur Madani
|
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sampai akhir abad ketujuh, Islam berkembang pesat namun masih terbatas di
belahan dunia timur. Ekspansi yang dilakukan paling jauh hanya mencapai Afrika
Utara, yaitu saat Abdul Malik menjadi Khalifah dari Dinasti Umayyah. Benua
Eropa yang diwakili oleh Semenanjung Andalusia (Iberia) baru dimasuki ketika
Tharif bin Malik melakukan penyelidikan, yang kemudian dilanjutkan dengan
penguasaan Thariq bin Ziyad yang mendaratkan tentaranya tahun 711 M. Mulai saat
itu Islam diperkenalkan kepada penduduk Spanyol yang menganut agama Kristen
(Suhelmi, 2001: 20).
Saat Islam menguasai Spanyol, Eropa bangkit dari
keterbelakangannya. Kebangkitan itu bukan saja terlihat dalam bidang politik
dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kerajaan-kerajaan Islam dalam bagian
dunia lainnya, seperti Dinasti Bani Abbas dan Dinasti Fatimiyah, namun juga di
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Munculnya tokoh sekaliber Ibnu Bajjah,
Ibnu Tufayl, dan Ibnu Rusyd menunjukkan kemajuan intelektual yang tinggi
(Mun’im, 1997: 180-188). Bahkan, kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi
itulah yang mendukung keberhasilan politik di negeri itu. Kemajuan-kemajuan
Eropa tersebut tidak bisa dipisahkan dari pemerintahan Islam di Spanyol. Dari
Spanyol-Islamlah Eropa banyak menimba Ilmu. Pada periode Klasik, ketika Islam
mencapai masa keemasannya, Spanyol merupakan pusat peradaban Islam yang sangat
penting sekaligus sebagai saingan Bagdad di Timur. Ketika itu, orang-orang
Eropa Kristen banyak belajar di perguruan-perguruan tinggi Islam di sana. Islam
menjadi “guru” bagi komunitas Eropa. Karena itu, kehadiran Islam di Spanyol
hampir tak pernah luput dari bidikan para sejarawan. Dalam makalah ini, topik
yang akan dibahas seputar masuknya Islam, perkembangan kekuasaan Islam di
Spanyol, dan kemajuan yang dicapai saat Islam masuk ke Spanyol. Dari bahasan
ini diharapkan pembaca mendapat gambaran yang jelas tentang peran Islam dalam
membentuk peradaban Spanyol.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
proses masuknya Islam ke Spanyol?
2.
Bagaimana
perkembangan kekuasaan Islam di Spanyol
3.
Apa
saja kemajuan yang dicapai sejak masuknya Islam ke Spanyol?
C.
Tujuan
Tujuan dari penulisan
makalah ini adalah:
1.
Memenuhi
tugas dari dosen pengampu mata kuliah Pemikiran dan Peradaban dalam Islam.
2.
Untuk
mengetahui proses masuknya Islam ke Spanyol
3.
Untuk
mengetahui perkembangan kekuasaan Islam di Spanyol.
4.
Untuk
mengetahui berbagai kemajuan yang telah dicapai ketika Islam masuk ke Spanyol.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Sejarah Masuknya Islam ke Spanyol (Andalusia)
Pemerintahan Islam yang pertama kali menduduki
Spanyol adalah Khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus
(Salwasalsabila, 2008: 21). Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah
menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi dari
dinasti Bani Umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di
zaman Khalifah Abd Malik (685-705 M). Khalifah Abd Malik mengangkat Ibnu Nu’man
al Ghassani menjadi gubernur di daerah itu. Pada masa Khalifah al Walid
(705-715 M), Hasan Ibnu Nu’man sudah digantikan oleh Musa Ibnu Nushair. Di saat
al Walid berkuasa, Musa Ibnu Nushair sukses memperluas wilayah kekuasaannya
dengan menduduki daerah Aljazair dan Maroko. Selain itu, ia juga menyempurnakan
penaklukan ke berbagai wilayah bekas kekuasaan Bangsa Barbar di sejumlah pegunungan
sehingga mereka menyatakan loyal dan berjanji tidak akan membuat kekacauan
seperti yang telah mereka lakukan sebelumnya.
Penaklukan wilayah Afrika Utara hingga menjadi salah satu propinsi dari
Khalifah Bani Umayyah membutuhkan waktu selama 53 tahun, sejak tahun 30 H (masa
pemerintahan Muawiyah Ibnu Abi Sofyan) sampai tahun 83 H (masa al Walid).
Sebelum dikalahkan dan kemudian dikuasai Islam, kawasan itu merupakan basis
kekuasaan Kerajaan Romawi, yaitu Kerajaan Gothik. Kerajaan ini seringkali
mendatangi penduduk dan mendorong mereka untuk membuat kerusuhan dan menentang
kekuasaan Islam. Setelah kawasan ini dapat dikuasai secara total, umat Islam
mulai memusatkan perhatiannya untuk menaklukkan Spanyol. Dari sini dapat
diketahui bahwa penaklukan Afrika Utara adalah batu loncatan bagi kaum Muslimin
untuk menguasai wilayah Spanyol (Syalabi, 1995: 156).
Dalam sejarah penguasaan Spanyol, ada tiga pahlawan Islam yang dapat
dikatakan paling berjasa dalam proses penaklukan Spanyol. Mereka adalah Tharif
Ibnu Malik, Thariq Ibnu Ziyad, dan Musa ibn Ibnu Nushair. Tharif dinilai
sebagai perintis dan penyelidik wilayah Spanyol karena ia merupakan orang
pertama yang sukses menyeberangi selat antara Maroko dan Benua Eropa. Ia pergi
bersama satu pasukan perang berjumlah lima ratus orang dengan menaiki empat
buah kapal yang disediakan oleh Julian. Dalam penyerbuan itu, Tharif menang dan
kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang banyak jumlahnya.
Termotivasi oleh keberhasilan Tharif dan krisis kekuasaan dalam kerajaan Gothic
yang menguasai Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk
memperoleh harta rampasan perang, pada tahun 711 M Musa Ibnu Nushair mengirim
pasukan sebanyak 7000 orang ke Spanyol di bawah pimpinan Thariq Ibnu Ziyad
(Hitti, 2005: 628).
Thariq Ibnu Ziyad lebih terkenal sebagai
penakluk Spanyol sebab jumlah pasukannya lebih besar dan efeknya pun lebih
nyata (Syalabi, 1995: 159-1960; Hill, 1996: 10). Pasukannya terdiri dari
sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa Ibnu Nushair dan sebagian
lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al Walid (Yatim, 1994:86). Orang Barbar
merupakan suatu bangsa yang masih mempunyai pertalian keturunan dengan Bangsa
Hamiyah, suatu cabang dari bangsa kulit putih dan dalam masa pra sejarah
mungkin berasal dari Bangsa Samyah. Kebanyakan orang Barbar (Berber) yang
mendiami daerah pesisir beragama Kristen. Orang terkemuka dalam agama Kristen
tua, seperti Tertullianus, Santa Cyprianus, dan terutama Santa Augustinus
berasal dari negeri ini (Hitti, 2005: 83). Pasukan itu kemudian menyeberangi
Selat di bawah pimpinan Thariq Ibnu Ziyad. Gunung tempat pertama kali Thariq
dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya hingga kini dapat dikenang
dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq).
Dalam pertempuran di suatu tempat yang
bernama Bakkah, ada pula yang menyebutnya Lakkah (Wadil Lakkah atau Goddelete),
tepatnya tanggal 19 Juli 711 M, Thariq berhasil mengalahkan Raja Roderick.
Selanjutnya, Thariq dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting di sana,
seperti Cordova, Granada, dan Toledo. Ia pun sempat meminta tambahan pasukan
kepada Musa Ibnu Nushair di Afrika Utara. Musa mengirimkan tambahan pasukan
sebanyak 5000 tentara, sehingga jumlah pasukan Thariq seluruhnya 12.000 orang.
Jumlah ini belum sebanding dengan pasukan Bangsa Gothic itu yang jauh lebih
besar, 100.000 orang (Yatim, 1994: 86). Kekalahan pasukan Roderick, menurut
Syalabi, disebabkan karena pasukannya itu terdiri dari para hamba sahaya dan
orang-orang lemah. Selain itu, di antara mereka ada pula musuh-musuh Roderick.
Ditambah lagi, orang-orang Yahudi secara rahasia juga mengadakan persekutuan
dengan kaum Muslimin (Syalabi, 1995: 159-1960).
Kemenangan pertama yang diperoleh Thariq
Ibnu Ziyad merupakan jalan lapang untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi.
Untuk itu, Musa Ibnu Nushair merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang
pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq (Syalabi, 1995: 161-1962).
Dengan suatu pasukan yang besar, ia berangkat menyeberangi selat itu. Satu demi
satu kota yang dilewatinya berhasil dikuasai. Setelah Musa berhasil menaklukkan
Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan
Gothic, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo.
Selanjutnya keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol,
termasuk bagian utaranya, mulai Saragosa sampai Navarre (Yatim, 1994: 90).
Dari kisah penaklukan Spanyol di atas,
dapat diketahui bahwa keberhasilan tiga pahlawan Islam: Tharif Ibnu Malik,
Thariq Ibnu Ziyad, dan Musa Ibnu Nushair, tidak lepas dari semangat mereka
melakukan ekspansi wilayah kekuasaan Islam pada waktu yang tepat. Di saat
seluruh wilayah Afrika Utara sudah dikuasai dan kekuasaan kerajaan Gothic mulai
melemah, lompatan berikutnya adalah penguasaan daerah Spanyol yang berada di
seberang. Keberanian Tharif sebagai orang pertama yang menyeberang selat antara
Maroko dan benua Eropa itu patut dihargai meskipun dalam ekspedisinya belum
banyak melibatkan pasukan sehingga hasilnya belum kentara. Keberhasilan Tharif
mendorong Thariq untuk mengadakan ekspedisi berikutnya dengan pasukan lebih
besar. Hasil yang dicapai telah dicatat dalam sejarah sehingga membuat Thariq
lebih layak dianggap sebagai penakluk Spanyol. Peran serta sang Gubernur Afrika
Utara, Musa Ibnu Nushair, dalam penaklukan Spanyol memperkuat sekaligus
melengkapi keberhasilan Thariq dalam upaya penguasaan Spanyol. Kerjasama satu
tim dan keterlibatan aktif pimpinan pusat dan pelaksana lapangan telah
membuahkan hasil maksimal dalam perluasan kekuasaan Islam ke Spanyol.
B.
Perkembangan Kekuasaan Islam di Spanyol
Tak dapat dipungkiri bahwa Islam memainkan peranan yang
penting di Spanyol selama sekitar delapan abad. Di Spanyol,
Bangsa Arab memperoleh kemenangan paling besar dan paling lama di Eropa
walaupun juga penderitaan yang dramatis terjadi di sana (Lewis,1988: 122; Al
Siba’i,1987: 33). Sejarah panjang yang dilewati umat Islam Spanyol menurut
Hamka (1994: 293-294) terbagi dalam tiga masa saja, yaitu masa saat diperintah
oleh wakil khalifah dari Damaskus, masa diperintah oleh para amir, dan masa
dipimpin oleh seorang khalifah. Namun menurut Badri Yatim (1994: 92), masa
Islam di Spanyol itu dapat dibagi menjadi enam periode sebagai berikut:
1. Periode Pertama (711-755 M)
Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh
Khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Stabilitas politik negeri
Spanyol belum tercapai secara sempurna karena banyak gangguan baik gangguan
internal maupun eksternal. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan
dan pertengkaran di kalangan para elit penguasa, terutama akibat perbedaan suku
dan golongan. Begitu pula terdapat perbedaan pandangan antara khalifah di
Damaskus dan Gubernur Afrika Utara yang berpusat di Qairawan yang masing-masing
mengaku paling berhak atas daerah Spanyol. Konsekuensinya, terjadilah dua puluh
kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat.
Perbedaan pandangan politik itu menyebabkan seringnya terjadi perang saudara,
antara Barbar asal Afrika Utara dan Arab.
Etnis Arab sendiri terdiri dari dua golongan yang selalu bersaing, yaitu
suku Qaisy (Arab Utara) dan Arab Yaman (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini tak
jarang menyebabkan konflik politik terutama ketika ada figur yang kuat dan
tangguh. Wajarlah jika di Spanyol pada saat itu tidak ada gubernur yang mampu
mempertahankan kekuasaannya dalam jangka waktu yang agak lama.
Gangguan dari luar muncul dari “mantan” musuh Islam di Spanyol yang
bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah loyal
kepada pemerintahan Islam. Mereka sangat benci Islam dan terus menyusun
kekuatan. Sebagai hasilnya, mereka mampu mengusir Islam dari bumi Andalus walau
harus berjuang lebih dari 500 tahun.
Dengan banyaknya konflik internal dan eksternal, maka dalam periode ini
Islam Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan
kebudayaan. Datangnya Abd al Rahman al Dakhil ke Spanyol pada tahun 138 H/755M
menjadi tanda berakhirnya periode pertama (Yatim,1994: 94).
2. Periode Kedua (755-912 M)
Pada masa ini, Spanyol diperintah oleh seorang amir (panglima atau gubernur)
tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan yang ketika itu dipegang oleh
Khalifah Abbasiyah di Bagdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki
Spanyol tahun 138 H/755M dan diberi gelar al Dakhil (yang masuk ke
Spanyol).
Abdurrahman al Dakhil adalah keturunan Bani Umayyah yang berhasil
melarikan diri dan lolos dari kejaran Bani Abbasiyah yang telah menaklukkan
Bani Umayyah di Damaskus. Abdurrahman melakukan pengembaraan ke Palestina,
Mesir, dan Afrika Utara, hingga akhirnya tiba di Cheuta. Di wilayah ini, ia
memperoleh bantuan dari Bangsa Barbar dalam menyusun kekuatan militer.
Selanjutnya, ia sukses mendirikan Dinasti Bani Umayyah di Spanyol. Pemerintah
setelah Abdurrahman al Dakhil adalah Hisyam I, Hakam I, Abd al Rahman al
Ausath, Muhammad Ibnu Abd al Rahman, Munzir Ibnu Muhammad, dan Abdullah Ibnu
Muhammad (Ali, 1996: 302-312).
Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh banyak kemajuan,
baik dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban. Abd Rahman al Dakhil
mendirikan masjid Kordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol.
Hisyam I dikenal berjasa sebagai pembaharu dalam kemiliteran. Dialah yang
memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Ia juga orang pertama yang menjadikan
Madzhab Maliki sebagai Madzhab resmi negara. Adapun Abd. Al Rahman al Ausath
dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pemikiran filsafat mulai masuk,
terutama di zaman Abdurrahman al Ausath, yang mengundang para ahli dari dunia
Islam lainnya untuk datang ke Spanyol. Akhirnya, kegiatan ilmu pengetahuan di
Spanyol kian berkembang.
Gangguan politik serius yang terjadi pada periode ini justru datang dari
umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk
negara kota yang berlangsung selama 80 tahun. Di samping itu, sejumlah orang
yang tak puas menuntut terjadinya revolusi. Pemberontakan yang dipimpin oleh
Hafsun dan anaknya, Umar, yang berpusat di pegunungan dekat Malaga merupakan
yang gangguan penting. Selain itu, perselisihan antara orang-orang Barbar dan
orang Arab masih seringkali terjadi (Yatim, 1994: 96).
3. Periode Ketiga (912-1013 M)
Pemerintahan Abd Rahman III yang bergelar al Nasir li dinillah (penegak
agama Allah) sampai munculnya raja-raja kelompok (kecil) yang dikenal dengan Muluk
al Thawaif masuk dalam periode ketiga. Pada periode ini, Spanyol diperintah
oleh penguasa yang bergelar Khalifah. Dengan demikian, pada masa ini terdapat
dua khalifah sunni di dunia Islam, Khalifah Abbasiyah di Bagdad dan Khalifah
Umayyah di Spanyol, di samping seorang khalifah Syi’ah Fatimiyyah di Afrika
Utara (Ali, 1996: 308).
Pemakaian gelar khalifah tersebut bermula dari berita bahwa al Muqtadir,
khalifah daulat Bani Abbasiyah Bagdad, tewas dibunuh oleh pengawalnya sendiri.
Menurut penilaiannya, keadaan ini menunjukkan bahwa suasana pemerintahan
Abbasiyah sedang berada dalam ketidakpastian. Oleh sebab itu, momen tersebut
dianggap sebagai waktu yang tepat untuk memakai gelar khalifah yang telah
dirampas dari kekuasaan Bani Umayyah selama 150 tahun lebih (Yatim, 1994: 96).
Gelar ini resmi dipakai mulai tahun 929 M. Khalifah-khalifah besar yang
memerintah pada periode ketiga ini ada tiga orang, yaitu Abd Rahman al Nasir
(912-961), Hakam II (961-976), dan Hisyam II (976-1009 M).
Pada periode ini, umat Islam Spanyol berhasil mencapai puncak kemajuan
dan kejayaannya. Hal ini dapat disejajarkan dengan kejayaan daulat Abbasiyah di
Bagdad. Abd Rahman III merupakan penguasa Umayyah terbesar di Spanyol. Seluruh
gerakan pengacau dan konflik politik dapat diselesaikan sehingga situasi negara
relatif aman. Penaklukan kota Elvira, Jain, dan Seville merupakan sebagian
bukti keberhasilan Abd. Rahman III dan kekuatan Kristen juga dipaksa menyerah
kepadanya. Setelah sukses mengatasi problem politik dalam negeri, ia juga
berhasil menggagalkan cita-cita Daulah Fatimiyyah untuk memperluas wilayah
kekuasaannya ke negeri Spanyol.
Di bawah pemerintahan Khalifah Abd Rahman III, Spanyol mengalami kemajuan
peradaban yang menggembirakan, terlebih di bidang Arsitektur. Tercatat tidak
kurang dari 300 masjid, 100 istana megah, 13.000 gedung, dan 300 tempat
pemandian umum berada di Cordova. Kemasyhurannya sebagai penguasa dikenal
sampai di negeri Konstantinopel, Jerman, Perancis, hingga Itali. Bahkan,
penguasa negeri-negeri tersebut mengirim para dutanya ke Istana Khalifah.
Armada laut yang dibentuk berhasil menguasai jalur lautan tengah bersama dengan
armada Fatimiyyah. Kebesaran Abd Rahman III dapat disejajarkan dengan Raja
Akbar dari India, Umar bin Khattab, dan Harun al Rasyid. Jadi, Abdurrahman III
bukan hanya sebagai penguasa terbaik Spanyol, melainkan juga salah satu
penguasa terbaik dunia (Ali,1996:309). Sayangnya, tidak semua tokoh sejarah
mengetahui hal ini (Husain,1996: 1).
Penguasa setelah Abd Rahman II adalah Hakam II, yang merupakan seorang
kolektor buku dan pendiri perpustakaan. Koleksi dalam perpustakaannya tidak
kurang dari 400.000 buku. Pada masa ini, masyarakat dapat menikmati
kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan kota pun berlangsung cepat.
Selanjutnya, Hisyam II naik tahta dalam usia sebelas tahun merupakan awal
kehancuran khilafah Bani Umayyah di Spanyol. Oleh karena itu, kekuasaan de
facto berada di tangan para pejabat. Pada tahun 981 M. Khalifah menunjuk
Ibnu Abi Amir sebagai pemegang kekuasaan secara mutlak. Dia seorang yang
ambisius yang berhasil menancapkan kekuasaannya dan melebarkan wilayah
kekuasaan Islam dengan menyingkirkan rekan dan saingannya. Atas
keberhasilannya, ia mendapat gelar al Mansur billah. Ia wafat pada tahun
1002 M dan digantikan oleh anaknya al Muzaffar yang masih dapat mempertahankan
keunggulan kerajaan. Akan tetapi, setelah ia wafat pada tahun 1008 M, ia
digantikan oleh adiknya yang tidak memiliki kualifikasi untuk jabatan itu.
Akhirnya pada tahun 1013 M, dewan menteri yang memerintah Cordova menghapus
jabatan khalifah. Ketika itu Spanyol sudah terpecah dalam banyak sekali negara
kecil yang berpusat di kota-kota tertentu (Watt, 1995: 218).
Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negeri
kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau al Muluk al Thawaif,
yang antara lain berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, dan Toledo
(Bosworth, 1993: 35-40). Pemerintahan terbesar diantaranya adalah Abbasiyah di
Seville. Pada periode ini, umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian
internal. Sayangnya, jika terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak
yang bertikai itu, ada pihak-pihak tertentu yang meminta bantuan kepada
raja-raja Kristen. Karena menyaksikan kekacauan dan kelemahan yang menimpa
keadaan politik Islam, maka orang-orang Kristen pada periode ini mulai
mengambil inisiatif penyerangan untuk pertama kalinya. Akibat fatalnya,
kekuatan Islam diketahui mulai menurun dan tiba saatnya untuk dihancurkan (Yatim,1994:96).
5. Periode
kelima (1086-1248 M)
Walaupun terpecah dalam beberapa negara, pada periode kelima ini, Spanyol
Islam masih mempunyai suatu kekuatan yang dominan, yaitu dinasti Murabithun (1086-1143
M) dan dinasti Muwahhidun (1146-1235M). Dinasti Murabithun pada mulanya
adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf Ibnu Tasyfin di Afrika
Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat
di Marakesy. Ia masuk ke Spanyol atas undangan penguasa-penguasa Islam di sana
yang tengah berjuang mempertahankan negerinya dari serangan kaum Nasrani. Ia
dan tentaranya memasuki Spanyol pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan
pasukan Castilia.
Perpecahan di kalangan raja-raja Muslim menyebabkan Yusuf bergerak lebih
jauh untuk menguasai Spanyol dan ia pun berhasil. Kesuksesan ini ternyata tidak
dapat diteruskan oleh penguasa-penguasa sesudahnya karena mereka adalah
raja-raja yang lemah. Pada tahun 1143 M, kekuasaan dinasti Murabithun baik di
Afrika Utara maupun di Spanyol berakhir. Dinasti Muwahhidun muncul
sebagai gantinya.
Tahun 1146 M penguasa Muwahhidun yang berpusat di Afrika Utara merebut
Spanyol. Muwahhidun didirikan oleh Muhammad Ibnu Tumart (w. 1128). Ia adalah
seorang cerdas, tangkas, dan tak segan-segan mempunyai pemikiran berseberangan.
Ia adalah murid Qadi Ibnu Hamdin (Urvoy, 1991: 11). Dinasti ini datang ke
Spanyol di bawah pimpinan Abd al Munim. Antara tahun 1114 dan 1154 M, kota-kota
Muslim penting, Cordova, Almeria, dan Granada, jatuh ke bawah kekuasaannya.
Untuk jangka beberapa dekade, dinasti ini mengalami banyak kemajuan terutama
saat pemerintahan dipegang oleh Abu Yusuf al Mansur. Kekuatan-kekuatan Kristen
dapat dipukul mundur. Akan tetapi tidak lama kemudian, dinasti Muwahhidun
mengalami keruntuhan.
Pada tahun 1212 M, tentara Kristen memperoleh kemenangan besar di Las
Navas de Tolesa. Kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahhidun menyebabkan
penguasanya memilih untuk meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara
tahun 1235 M. keadaan Spanyol kembali runyam, berada di bawah penguasa-penguasa
kecil. Dalam kondisi demikian, umat Islam tidak mampu bertahan dari
serangan-serangan Kristen yang semakin besar. Tahun 1238 M, Cordova jatuh ke
tangan penguasa Kristen dan Seville jatuh pada tahun 1248 M. Akhirnya, kecuali Granada,
seluruh wilayah Spanyol telah lepas dari kekuasaan Islam (Yatim, 1994: 99).
6. Periode
keenam (1248-1492 M)
Kerajaan Granada merupakan pertahanan terakhir Muslim Spanyol di bawah
kekuasaan dinasti Bani Ahmar (1232-1492 M). Peradaban kembali mengalami
kemajuan seperti di zaman Abdurrahman al Nasir. Akan tetapi, secara politik,
dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil.
Persekutuan antara wilayah Aragon dan Castille melalui perkawinan
Ferdinand dan Isabella melahirkan kekuatan besar untuk merebut kekuasaan
terakhir umat Islam di Spanyol (Tim, 1994: 175). Namun beberapa kali serangan
mereka belum berhasil menembus pertahanan umat Islam. Abu Hasan yang menjabat
pada waktu itu mampu mematahkan serangan tersebut. Bahkan ia menolak membayar
upeti kepada pemerintahan Castille. Abu Hasan dalam suatu serangan berhasil
menduduki kota Zahra.
Untuk membalas dendam, Ferdinand melancarkan serangan mendadak terhadap
al Hamra dan berhasil merebutnya. Banyak wanita dan anak kecil yang berlindung
di sana dibantai oleh pasukan Ferdinand. Jatuhnya al Hamra ini merupakan
pertanda kejatuhan pemerintahan Granada.
Situasi pemerintahan pusat di Granada semakin kritis dengan terjadinya
beberapa kali perselisihan dan perebutan kekuasaan antara Abul Hasan dengan
anaknya yang bernama Abu Abdullah. Serangan pasukan Kristen yang berusaha
memanfaatkan situasi ini dapat dipatahkan oleh Zaghal, saudara Abul Hasan.
Zaghal menggantikan Abul Hasan sebagai penguasa Granada. Zaghal berusaha
mengajak Abu Abdullah menggabungkan kekuatan dalam menghadapi musuh. Tapi
ajakan itu ditolaknya. Ketika terjadi pergolakan politik antara Zaghal dan Abu
Abdullah, pasukan Kristen melakukan penyerbuan dan berhasil menguasai Alora,
Kasr Bonela, Ronda, Malaga, dan Loxa.
Pada serangan berikutnya, Zaghal menyerah dan melarikan diri ke Afrika
Utara. Satu-satunya kekuatan Muslim berada di kota Granada dipimpin oleh Abu
Abdullah yang kemudian dihancurkan oleh Ferdinand. Abu Abdullah dipaksa
menyampaikan sumpah setia kepada Ferdinand dan bersedia melepaskan harta
kekayaan ummat Islam sebagai imbalan dari diberikannya hak hidup dan kebebasan
beragama bagi orang Islam. Peralihan kekuasaan yang menyedihkan itu terjadi
pada tanggal 3 Januari 1492M (Ali, 1996: 315; Yatim, 1994: 99-100).
Dengan demikian, berakhirlah kekuasan Islam di Spanyol. Umat Islam
setelah itu dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi
meninggalkan Spanyol. Akibatnya, pada tahun 1609 M, dapat dikatakan tidak ada
lagi umat Islam yang hidup di daerah ini.
C.
Kemajuan Di Spanyol Pada Masa Kekuasaan Islam
Bagaimanapun, islam telah mencapai
kejayaan di Spanyol. Banyak sekali
prestasi yang diraih oleh umat Islam, baik dalam bidang politik maupun aspek
intelektualnya, diantaranya:
1.
Aspek
Intelektual
Dalam
masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah
mencapai kejayaannya di sana. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan
pengaruhnya membawa Eropa dan dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks.
Spanyol adalah negeri subur. Kesuburan itu mendatangkan penghasilan ekonomi
yang cukup tinggi dan pada gilirannya banyak menghasilkan para pemikir serta
dengan kemajemukan masyarakat Spanyol saat itu semuanya kecuali orang Kristen
yang masih menentang kehadiran Islam ikut andil dalam memberikan sumbangsih
pemikiran terhadap terbentuk lingkungan budaya Spanyol yang melahirkan
kebangkitan ilmiah, sastra dan pembangunan fisik di Spanyol.12 Adapun kemajuan
intelektual yang pernah dicapai masyarakat Spanyol saat itu adalah :
a. Perkembangan
Filsafat
Islam di Spanyol telah mencatat satu
lembaran budaya yang sangat brilian, ia berperan sebagai jembatan penyeberangan
yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani Arab ke Eropa. Minat terhadap filsafat dan
ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke 9 selama pemerintahan Muhammad
ibn Abdurrahman (832-886M) masa Bani Umayyah. Kemudian atas inisiatif al-Hakam,
karya-karya ilmiah dan filosofis diimpor dari Timur dalam jumlah yang besar,
sehingga Cordova dengan perpustakaan dan universitasnya mampu menyaingi Baghdad
sebagai pusat utama ilmu pengertahuan di dunia Islam.
Tokoh
utama pertama dalam filsafat Arab-Spanyol adalah Ibn Bajjah, ia dilahirkan di
Saragosa kemudian ia pindah ke Sevilla dan Granada. Masalah yang dikemukakannya
bersifat etis dan eskatologis, magnum opusnya adalah Tadbir al-Mutawahhid.
Tokoh utama kedua adalah Ibnu Thufail, ia adalah penduduk asli Wadi Asy, sebuah
dusun kecil di sebelah timur Granada. Ia banyak menulis masalah kedokteran,
astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay ibn
Yaqzhan. Selain itu, tokoh filosof-filosof besar lainnya, seperti Abu Al-Qasim
Masalamah, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan masih banyak lagi.
b. Perkembangan
Sains dan Ilmu Eksakta
Perkembangan filsafat mendorong
berkembangnya ilmu sains dan eksakta, yakni ilmu-ilmu kedokteran, matematika,
astronomi, kimia dan lainnya yang berkembang sangat baik. Orang yang paling
masyhur dalam bidang ilmu kimia dan astronomi adalah Abbas ibn farnas, dialah
yang menemukan pembuatan kaca dari batu.Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash terkenal
dalam ilmu astronomi, ia dapat menentukaan waktu terjadinya gerhana matahari
dan lamanya, ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan
jarak antara tata surya dan bintang-bintang.
Ulama-ulama Arab menciptakan ilmu
tumbuh-tumbuhan untuk kepentingan pengobatan sehingga melahirkan ilmu apoteker
dan farmasi. Ahmad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli di bidang obat-obatan. Umm
al-Hasan bint Abi ja’far dan al-Hafidz adalah ahli kedokteran dari kalangan
wanita. Dalam bidang sejarah dan geografi, lahir banyak pemikir terkenal, di
antaranya adalah Ibn Zubair dari Valencia, ia telah menulis tentang
negeri-negeri muslim Mediterania dan Sicilia, Ibn Batuthah dari Tangier telah
berhasil mencapai Samudra Pasai dan Cina, Ibn Khatib telah berhasil menyusun
riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun adalah perumus filsafat sejarah.
c. Perkembangan
Ilmu Fikih
Madzhab yang berkembang di Cordova
adalah Maliki, yang diperkenalkan oleh Ziyad ibn Abd. Al-Rahman. Karena beliau adalah murid langsung dari Imam
Malik ibn Anas di madinah.
d. Perkembangan
Musik dan Kesenian
Perkembangan sastra dan syair
berkembang sangat pesat dan pertumbuhan musik dan seni suara tumbuh di
Spanyol. Hasan ibn Nafi (dikenal juga
dengan nam Ziryab). Keahliannya dibidang
musik membekas hingga sekarang dan Ia dianggap sebagai peletak dasar musik
Spanyol modern. Bahkan, menurut
penelitian bahwa ulama Arab lah yang memperkenalkan not lagu
do-re-mi-fa-so-la-si, Not itu diambil dari bunyi-bunyi huruf Arab.
e. Perkembangan
Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa
pemerintahan resmi di Spanyol, hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam
dan non Islam. Bahkan penduduk asli
Spanyol menomor duakan bahasa asli mereka dan sebagian penduduk yang beragama
Kristen, lebih fasih berbahasa Arab daripada orang Arab sendiri. Banyak dari mereka yang mahir dalam bahasa
arab, baik ketrampilan berbicara maupun tata bahasa, mereka antara lain adalah
: Ibn Sayyidah, Ibn Malik, Ibn Khuruf, Ibn Al-Hallaj, Abu Ali al-Isybili, Abu
al-Hasan ibn Usfur dan Hayyan al-Gharnathi.
Oleh karena itu, seorang pendeta
dari Sevilla menerjemahkan Taurat ke dalam bahasa Arab, karena hanya bahasa
Arab lah yang dimengerti oleh murid-muridnya. Mereka itu adalah: ibn Sayyidih,
ibn Malik pengarang kitab Alfiyah, ibn Khuruf, ibn Al-Hajj, Abu Ali al-Isybili,
dll.
Karya sastra yang muncul saat itu
di antaranya adalah al-“Iqd al-Farid karya Ibn Abd Rabbih, al-Dzakhirah fi
Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam, kitab al-Qalaid karya al-Fath ibn
Khaqan.
2.
Aspek
Pembangunan Fisik
Kemajuan dinasti Bani Umayyah di
Spanyol, ditandai dengan bangunan-bangunan fisik yang sangat megah dan kaya
akan artistik, diantaranya :
a. Al-Qashar
al-Kabir, yaitu kota satelit yang di dalamnya terdapat gedung-gedung istana
yang megah.
b. Masjid
Jami’ Cordova, di bangun pada tahun 786 M/170 H dan sampai sekarang masih
berdiri kokoh.
c. Terrdapat
900 pemandian di Cordova.
d. Istana
al-Hamra, istana al-Zahra, istana al-Gazar, istana Makmun dan istana
Ja’fariyah.
e. Menara
Girilda.
f. Tembok
Toledo.
g. Pabrik
senjata dan pabrik perhiasan.
3.
Lembaga
Pendidikan
Berdasarkan
tulisan-tulisan yang ada yang membahas seputar
sejarah
pendidikan dan sejarah peradaban Islam, secara global,
pendidikan Islam
di Spanyol terbagi ke dalam dua tingkatan, kuttab
dan al-Ma'had
al-‘Âlî (semacam Pendidikan Tinggi )
a.
Kuttab
Dalam konteks
kekinian, mungkin lembaga kuttab ini bisa
dipadankan dengan lembaga pendidikan
pesantren atau minimal halaqah atau pengajian tradisional. Pada lembaga
pendidikan kuttab ini para siswa mempelajari beberapa bidang studi dan
pelajaranpelajaran yang meliputi fikih, bahasa dan sastra, serta musik dan kesenian.
b.
Al-Ma'had
al-Âlî (Pendidikan Tinggi)
Masyarakat Arab
yang berada di Spanyol merupakan pelopor
peradaban dan kebudayaan juga
pendidikan, antara pertengahan abad VIII sampai dengan akhir abad XIII. Melalui
usaha yang mereka lakukan, ilmu pengetahuan kuno dan ilmu pengetahuan Islam dapat
ditranmisikan ke Eropa. Bani Umayyah yang berada di bawah kekuasaan Al-Hakam
menyelenggarakan pengajaran dan telah memberikan banyak sekali penghargaan
kepada para sarjana. Ia telah membangun Universitas Cordova berdampingan dengan
mesjid ‘Abd al-Rahmân III yang selanjutnya tumbuh menjadi lembaga pendidikan
yang terkenal di antara jajaran lembaga pendidikan tinggi lainnya di dunia.
Universitas ini menandingi dua universitas lainnya, yaitu Al-Azhar di Cairo dan
Nizamiyah di Baghdad, dan telah menarik perhatian para pelajar tidak hanya dari
Spanyol, tetapi juga dari tempat lain seperti dari negara-negara Eropa, Afrika
dan Asia (Alawi, 2000: 16).
Di antara para
ulama yang bertugas di Universitas Cordova adalah Ibn Qutaybah yang dikenal
sebagai ahli tata bahasa dan Abû ‘Alî al-Qâlî yang dikenal sebagai pakar
filologi. Universitas ini memiliki perpustakaan yang menampung koleksi sekitar
empat juta buku. Universitas ini mencakup jurusan yang meliputi astronomi, matematika,
kedokteran, teologi dan hukum. Jumlah muridny mencapai seribu orang. Selain
itu, di Spanyol terdapat Universitas Sevilla, Malaga, dan Granada. Mata kuliah
yang diberikan di universitas-universitas tersebut meliputi teologi, hukum
Islam, kedokteran, kimia, filsafat, dan astronomi. Sebagai prasasti pada pintu gerbang
universitas yang disebutkan terakhir ditulis sebagai berikut:
Dunia ini
ditopang oleh empat hal, yaitu pengajaran tentang kebijaksanaan, keadilan dari
penguasa, ibadah dari orang-orang yang saleh dan keberanian yang pantang
menyerah (Hitti, 1970:135).
BAB III
PEMBAHASAN
Spanyol
merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa menyerap peradaban Islam, baik
dalam bentuk hubungan politik dan sosial, maupun perekonomian dan peradaban
antarnegara. Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan bahwa Spanyol berada di
bawah kekuasaan Islam jauh meninggalkan negara-negara tetangganya di Eropa,
terutama dalam bidang pemikiran dan sains disamping bangunan fisik. Yang
terpenting di antaranya adalah pemikiran Ibn Rushd (1120-1198 M.). Ia
melepaskan belenggu taklid dan menganjurkan kebebasan berpikir. Ia mengulas
pemikiran Aristoteles dengan cara yang memikat minat semua orang yang
berpikiran bebas. Ia mengedepankan sunnatullah menurut pengertian Islam
terhadap pantheisme dan anthropomorphisme Kristen. Demikian besar
pengaruhnya di Eropa, hingga di Eropa timbul gerakan Averroeisme (Ibn
Rushdisme) yang menuntut kebebasan berpikir. Namun, pihak gereja menolak
pemikiran rasional yang dibawa gerakan Averroeisme ini.
Berawal dari
gerakan Averroeisme inilah, di Eropa kemudian lahir reformasi pada abad
ke-16 M. dan rasionalisme pada abad XVII M. Buku-buku Ibn Rushd dicetak di Venesia
tahun 1481, 1482, 1483, 1489, dan 1500 M. Bahkan edisi lengkapnya terbit pada
tahun 1553 dan 1557 M. Karya-karyanya juga diterbitkan pada abad XVI M. di Napoli,
Bologna, Lyonms, dan Strasbourg, dan di awal abad XVII M. di Jenewa.
Pengaruh
peradaban Islam, termasuk di dalamnya pemikiran Ibn Rushd, ke Eropa berawal
dari banyaknya pemuda-pemuda Kristen Eropa yang belajar di universitas-universitas
Islam di Spanyol, seperti Universitas Cordova, Seville, Malaga, Granada, dan
Salamanca. Selama belajar di Spanyol, mereka aktif menerjemahkan buku-buku karya
ilmuwan-ilmuwan muslim.
Pusat
penerjemahan itu adalah Toledo. Setelah pulang ke negerinya, mereka mendirikan
sekolah dan universitas yang sama. Universitas di Eropa adalah Universitas Paris
yang didirikan pada tahun 1231 M.; tiga puluh tahun setelah wafatnya Ibn Rushd.
Di akhir zaman pertengahan Eropa, baru berdiri 18 buah universitas. Di universitas-universitas
itu, ilmu yang mereka peroleh dari universitas universitas Islam diajarkan,
seperti ilmu kedokteran, ilmu pasti, dan filsafat. Pemikiran filsafat yang paling
banyak dipelajari adalah pemikiran Al-Farabî, Ibn Sinâ dan Ibn Rushd.
Dengan
kekecualian pada ilmu keagamaan, boleh dikatakan seluruh perkembangan ilmu
pengetahuan di masyarakat intelek Islam Spanyol mempengaruhi perkembangan ilmu
pengetahuan di dunia Barat, terutama setelah memasuki abad pertengahan. Hal ini
relevan dengan pernyataan Chistave Le Bon yang mengatakan bahwa perkenalan
dengan peradaban Islamlah sebenarnya yang membawa Eropa menjadi dunia beradab.
Abad ke-9 dan ke-10 adalah saat pusatpusat Islam di Spanyol sedang berada di
puncak kecemerlangannya. Pusat-pusat intelektual di Barat hanya berupa
benteng-benteng yang dihuni oleh para bangsawan yang dirinya merasa bangga atas
ketidakmampuan membaca mereka (Ma'arif, 1994:25-26).
Tahap
selanjutnya, dengan melalui tahap-tahap kecurigaan ketakutan yang luar biasa dan
secara diam-diam kecemburuan dan kekaguman terhadap Islam, masyarakat Eropa
akhirnya berhasil mentransfer metodologi ilmiah intelek masyarakat Islam.
Ironisnya, masyarakat Islam justru terpuruk dalam fase kemunduran. Metode eksperimen,
eksplorasi, observasi, yang pada awalnya digunakan dalam setiap kajian ilmiah,
berubah menjadi metode pengulangan pendapat para guru, yang belakangan diketahui
bahwa metode tersebut digunakan oleh sedikit masyarakat terpelajar abad
pertengahan di Eropa sebelum datangnya Islam (Ma'arif, 1994:34-35).
Sekarang,
masyarakat Islam masih sedang berusaha merumuskan jati diri dan peranannya
dalam percaturan dunia. Dalam pada itu, tahap-tahap yang pernah dilalui
masyarakat Eropa abad pertengahan, sekarang ini tampaknya sedang dilalui
masyarakat Islam. Sikap kecurigaan, ketakutan, dan kecemburuan sehingga muncul generalisasi
negatif terhadap dunia Barat, sebetulnya menunjukkan kekerdilan intelektual
yang tidak perlu lagi ditumbuhsuburkan. Kemajuan umat Islam di bidang sains dan
teknologi harus direbutnya kembali dengan banyak belajar dari Barat sebab harus
diakui bahwa pemegang kendali perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa
ini berada di tangan para ilmuwan Barat. Namun demikian, tentu saja ilmu
pengetahuan dan teknologi yang kita bagun harus senantiasa mempertimbangakan
prinsip-prinsip Islam.
BAB IV
SIMPULAN
Ada dua dinasti
besar yang mewarnai sejarah kegemilangan pemerintahan Islam di masa klasik,
Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah. Kedua dinasti ini juga berjasa dalam
pengembangan peradaban dan ilmu pengetahuan. Khusus Dinasti Umayyah atau Amawiyyah,
terbagi dalam dua masa dan wilayah. Umayyah I atau Umayyah Timur berpusat di
Damaskus dan Umayyah II atau Umayyah Barat berpusat di Andalusia.
Dalam hal ilmu
pengetahuan dan peradaban, masuknya Islam di Spanyol merupakan sebuah mixed
blessing bagi Eropa dan ternyata memberikan kontribusi yang tak ternilai,
baik kepada dunia Islam, terlebih-lebih kepada dunia Barat.. Kemajuan yang
dibawa dan diperkenalkan Islam terhadap Dunia Barat ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh
ilmuwan dan filosouf dari negeri tersebut. Spanyol pulalah yang menjadi gerbang
utama masuknya Islam ke dunia Barat dan kemudian membangkitkan Barat dari dunia
kegelapan dan mengantakan Eropa pada masa Renaissance serta
memperkenalkan mereka pada kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan. Walaupun
umat Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara yang sangat kejam,
ia telah membidani gerakan-gerakan signifikan di Eropa. Gerakan-gerakan itu adalah renaissance
pada abad XIV M. yang bermula di Italia, gerakan reformasi pada abad XVI M.,
rasionalisme pada abad XVII M., dan pencerahan (aufklaerung) pada abad
XVIII M.
DAFTAR
PUSTAKA
Faisal. 2015. Perkembangan Pendidikan Islam di Spanyol, (Online), (http://wartasejarah.blogspot.com/2015/06/perkembangan-pendidikan-islam-di-spanyol_13.html,
diakses 7 Mei 2020)
Hambali Y. 2016. Sejarah Sosial dan Intelektual Masyarakat Muslim Andalusia dan
Kontribusinya bagi Peradaban Dunia. Ilmu Ushuluddin. Vol. 3. No. 2
Maskhuroh L. 2017. Islam Spanyol (Perkembangan Politik, Intelektual, dan Runtuhnya
Kekuasaan Islam). E-Jurnal Unisda. Vol. 4. No. 2
Sudirman. 2011. Islam dan Peradaban Spanyol: Catatan Kritis Beberapa Faktor Penyebab
Kesuksesan Islam Spanyol. El-Harakah. Vol. 13. No. 2
Ubadah. 2008. Peradaban Islam di Spanyol dan Pengaruhnya Terhadap Peradaban Barat.
Jurnal Hunafa. Vol. 5. No. 2. Hal 151-164
Unknown.
2016. Sejarah Pendidikan Islam di
Spanyol, (Online), (http://cendikiaraya.blogspot.com/2016/05/sejarah-pendidikan-islam-di-spanyol.html, diakses 7 Mei 2020)
Komentar
Posting Komentar