Imunisasi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Imunisasi
2.1.1
Pengertian Imunisasi
Imunisasi adalah pemberian kekebalan
tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar
tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang.
Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi
terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada
penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan
imunisasi lainnya (Achmadi, 2006) .
Imunisasi merupakan
suatu program yang dengan sengaja memasukkan antigen lemah agar merangsang
antibodi keluar sehingga tubuh dapat resisten terhadap penyakit tertentu.
Sistem imun tubuh mempunyai suatu sistem memori (daya ingat), ketika vaksin
masuk kedalam tubuh, maka akan dibentuk antibodi untuk melawan vaksin tersebut
dan sistem memori akan menyimpannya sebagai suatu pengalaman. Jika nantinya
tubuh terpapar dua atau tiga kali oleh antigen yang sama dengan vaksin maka
antibodi akan tercipta lebih kuat dari vaksin yang pernah dihadapi sebelumnya (Proverawati, 2010, hal. 1) .
2.1.2 Jenis – Jenis
Imunisasi
Imunisasi telah
dipersiapkan sedemikian rupa agar tidak menimbulkan efek-efek yang merugikan.
Imunisasi ada 2 macam, yaitu:
a.
Imunisasi aktif
Merupakan suatu
pemberian bibit penyakit yang telah dilemahkan (vaksin) agar nantinya sistem
imun tubuh berespon spesifik dan memberikan suatu ingatan terhadap antigen ini,
sehingga ketika terpapar lagi tubuh dapat mengenali dan merespon.
b.
Imunisasi pasif
Merupakan suatu proses
peningkatan kekebalan tubuh dengan cara pemberian zat immunoglobulin, yaitu zat
yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari plasma
manusia (kekebalan yang didapat bayi dari ibu melalui placenta) atau binatang
yang digunakan untuk mengatasi mikroba yang sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi
(Proverawati, 2010, hal. 10-11)
2.1.3 Macam – Macam
Imunisasi
a.
Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin)
Bacillus Calmette
Guerin adalah vaksin hidup yang dibuat dari Mycobacterium
bovis yang dibiak berulang selama 1-3 tahun sehingga didapatkan hasil yang
tidak virulen tetapi masih mempunyai imunogenitas. Vaksinasi BCG menimbulkan
sensitivitas terhadap tuberkulin, tidak mencegah infeksi tuberkulosis tetapi
mengurangi risiko terjadi tuberkulosis berat seperti meningitis TB
dan tuberkulosis milier (Ranuh, 2008, hal. 132) .
b.
Vaksin DPT (Difteri Pertusis Tetanus)
Vaksin DPT (Difteri
Pertusis Tetanus) adalah vaksin
yang terdiri dari toxoid
difteri dan tetanus yang dimurnikan serta
bakteri pertusis yang
telah diinaktivasi (DepkesRI, 2006)
Difteri merupakan
penyakit yang disebabkan oleh bakteri
Corynebacterium
diphtheria. Difteri bersifat ganas, mudah menular dan
menyerang terutama
saluran nafas bagian atas. Penularannya bisa
karena kontak langsung
dengan penderita melalui bersin atau batuk atau
kontak tidak langsung karena
adanya makanan yang terkontaminasi
bakteri difteri.
c.
Vaksin Hepatitis B
Vaksin hepatitis B
adalah vaksin virus rekombinan yang telah diinaktivasikan dan bersifat in
infectious, berasal dari HBsAg yang dihasilkan dalam sel ragi (Hansenula
polymorph) menggunakan teknologi DNA rekombinan.
d.
Vaksin Polio (Oral Polio Vaccine)
Vaksin Oral Polio
adalah vaksin yang terdiri dari suspense virus poliomyelitis tipe 1,2,3
(Strain Sabin) yang sudah dilemahkan, dibuat dibiakkan jaringan ginjal
kera dan distabilkan dengan sukrosa.
e.
Vaksin Campak
Vaksin Campak merupakan
vaksin virus hidup yang dilemahkan. Setiap dosis (0,5 ml) mengandung tidak
kurang dari 1000 inektive unit virus strain dan tidak lebih dari 100 mcg residu
kanamycin dan 30 mcg residu erithromycin.
2.1.4 Manfaat Imunisasi
a. Untuk anak: mencegah
penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat atau kematian.
b. Untuk keluarga:
menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit. Mendorong
pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya menjalani masa
kanak-kanak yang nyaman.
c. Untuk Negara:
memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk
melanjutkan pembangunan negara
2.2 Imunisasi BCG
2.2.1 Pengertian Imunisasi BCG
Imunisasi
BCG merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC
yang berat sebab terjadinya penyakit TBC yang primer atau yang ringan dapat
terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG. Pencegahan imunisasi TBC untuk
TBC yang berat seperti TBC pada selaput otak, TBC Milier (pada seluruh lapangan
paru) dan TBC tulang. Imunisasi BCG ini merupakan vaksin yang mengandung kuman
TBC yang telah dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi BCG adalah satu kali dan waktu pemberian imunisasi BCG pada umur 0-11
bulan. Cara pemberian imunisasi BCG ini dilakukan melalui intra dermal. Efek
samping pada imunisasi BCG dapat berupa terjadinya ulkus pada daerah suntikan
dan terjadinya limfadenitas regional dan reaksi panas.
2.2.2 Cara
Pemberia dan Dosis
Vaksin BCG merupakan bakteri tuberculosis
bacillus yang telah dilemahkan. Cara pemberiannya melalui suntikan. Sebelum
disuntikan, vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu. Dosis 0,05 cc untuk
bayi dan 0,1 cc untuk anak dan orang dewasa. Imunisasi BCG dilakukan pada bayi
usia 0-2 bulan, akan tetapi biasanya diberikan pada bayi umur 2 atau 3 bulan.
Dapat diberikan pada anak dan orang dewasa jika sudah melalui tes tuberkulin
dengan hasil negatif.
Imunisasi BCG disuntikan secara
intrakutan di daerah lengan kanan atas. Disuntikan ke dalam lapisan kulit
dengan penyerapan pelan-pelan. Dalam memberikan suntikan intrakutan, agar dapat
dilakukan dengan tepat, harus menggunakan jarum pendek yang sangat halus (10
mm, ukuran 26). Kerjasama antara ibu dengan petugas imunisasi sangat
diharapkan, agar pemberian vaksin berjalan dengan tepat.
2.2.3 Efek Samping Imunisasi BCG
Setelah diberikan imunisasi BCG,
reaksi yang timbul tidak seperti pada imunisasi dengan vaksin lain. Imunisasi
BCG tidak menyebabkan demam. Setelah 1-2 minggu diberikan imunisasi, akan
timbul indurasi dan kemerahan ditempat suntikan yang berubah menjadi pastula,
kemudian pecah menjadi luka. Luka tidak perlu pengobatan khusus, karena luka
ini akan sembuh dengen sendirinya secara spontan. Kadang terjadi
pembesaran kelenjar regional diketiak atau leher. Pembesaran kelenjar ini
terasa padat, namun tidak menimbulkan demam.
2.2.4 Kepedulian Orang Tua Terhadap Imunisasi
Leininger (1981) menyimpulkan bahwa
kepedulian adalah perasaan yang ditujukan kepada orang lain, dan itulah yang
memotivasi dan memberikan kekuatan untuk bertindak atau beraksi, dan
mempengaruhi kehidupan secara konstruktif dan positf, dengan meningkatkan
kedekatan satu sama lain.
Kepedulian yang dibahas adalah
kepedulian orang tua terhadap imunisasi. Hal tersebut berarti orang tua
menunjukkan perasaannya terhadap anak dengan pemberian imunisasi agar sistem
imun anak kebal terhadap suatu penyakit.
Indonesia adalah negara dengan jumlah
penduduk sebanyak dua ratus ribu jiwa dengan angka kematian bayi dan balita
yang cukup tinggi yaitu 25 bayi berusia di bawah 12 bulan dari 1000 kelahiran
hidup per tahun dan 32 balita berusia di bawah 5 tahun per 1000 kelahiran hidup
per tahun.
Mayoritas kematian anak berusia di
bawah satu tahun disebabkan karena belum diberikannya imunisasi. Inilah
sebabnya imunisasi menjadi hal yang sangat penting di Indonesia.
Angka cakupan imunisasi secara
nasional adalah sebesar 59,2%. Dari cakupan capaian tersebut terdapat 32,1%
yang imunisasinya tidak lengkap dan 8,7%
yang tidak pernah imunisasi. Dari data riskesdas (riset kesehatan
masyarakat) tersebut dapat disimpulkan bahwa masih banyak orang tua yang tidak
peduli terhadap imunisasi.
Ketidakpedulian terhadap imunisasi di
Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yang pertama adalah pemahaman orang
tua tentang imunisasi. (Supartini, 2004) Pemahaman imunisasi sangat diperlukan
orang tua sebagai dasar dalam memenuhi kebutuhan kesehatan anak. Pemberian
imunisasi dasar pada anak harus dilandasi dengan adanya pemahaman yang baik
dari orang tua mengenai imunisasi sebagai suatu upaya pemeliharaan kesehatan
anak melalui upaya pencegahan penyakit. Sehingga orang tua diharapkan dapat
menyadari dan memiliki pemahaman yang positif terhadap imunisasi.
Yang kedua adalah orang tua yang
merasa khawatir anak akan mengalami pembengkakan dan kemerahan pada kulit,
rewel, dan demam. (Izenberg, 2002) Ibu merasa khawatir
mereka mengalami reaksi buruk akibat vaksinasi seperti bengkak dan demam
sehingga sering dianggap sebagai ancaman besar dibandingkan komplikasi-komplikasi
yang lebih serius yang dapat terjadi bila anak tidak mendapatkan imunisasi
seperti pneumonia, meningitis, dan bahkan kematian.
Yang ketiga adalah orang tua
menganggap bahwa penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin terkadang tidak
terlalu serius. Tetapi sebenarnya penyakit tersebut bisa menjadi berat.
Misalnya campak yang dapat menyebabkan gangguan otak, pneumonia atau radang
paru-paru. Risiko keparahan penyakit juga akan lebih besar pada anak yang belum
divaksinasi.
Selain itu, ada juga orang tua yang
mendukung jika anaknya diberi vaksin. Alasannya yang pertama adalah orang tua
merasa takut jika anaknya terserang penyakit berbahaya.Kedua orang tua tidak
mau jika masa depan anaknya terganggu karena penyakit yang berbahaya. Yang
ketiga, biaya imunisasi lebih terjangkau jika dibandingkan dengan ketika
terserang penyakit.
Komentar
Posting Komentar