Hubungan aqidah, ibadah, dan muamalah
Hubungan
aqidah dengan ibadah
Akidah
menempati posisi terpenting dalam ajaran agama Islam. Ibarat sebuah bangunan,
maka perlu adanya pondasi yang kuat yang mampu menopang bangunan tersebut
sehingga bangunan tersebut bisa berdiri dengan kokoh. Demikianlah urgensi
akidah dalam Islam, Akidah seseorang merupakan pondasi utama yang menopang
bangunan keislaman pada diri orang tersebut. Apabila pondasinya tidak kuat maka
bangunan yang berdiri diatasnya pun akan mudah dirobohkan.
Selanjutnya
Ibadah yang merupakan bentuk realisasi keimanan seseorang, tidak akan dinilai
benar apabila dilakukan atas dasar akidah yang salah. Hal ini tidak lain karena
tingkat keimanan seseorang adalah sangat bergantung pada kuat tidaknya serta
benar salahnya akidah yang diyakini orang tersebut. Sehingga dalam diri seorang
muslim antara akidah, keimanan serta amal ibadah mempunyai keterkaitan yang
sangat kuat antara ketiganya.
Muslim
apabila akidahnya telah kokoh maka keimanannya akan semakin kuat, sehingga
dalam pelaksanaan praktek ibadah tidak akan terjerumus pada praktek ibadah yang
salah. Sebaliknya apabila akidah seseorang telah melenceng maka dalam praktek
ibadahnya pun akan salah kaprah, yang demikian inilah akan mengakibatkan
lemahnya keimanan.
Pondasi
aktifitas manusia itu tidak selamanya bisa tetap tegak berdiri, maka dibutuhkan
adanya sarana untuk memelihara pondasi yaitu ibadah. Ibadah merupakan bentuk
pengabdian dari seorang hamba kepada allah. Ibadah dilakukan dalam rangka
mendekatkan diri kepada allah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan
terhadap allah.
Manusia
sebagai makhluk yang paling sempurna, sejak kelahirnya telah dibekali dengan
akal pikiran serta perasaan (hati). Manusia dengan akal pikiran dan hatinya
tersebut dapat membedakan mana yang baik dan mana yang benar, dapat mempelajari
bukti-bukti kekuasaan Allah, sehingga dengannya dapat membawa diri mereka pada
keyakinan akan keberadaan-Nya. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi manusia
untuk tidak mengakui keberadaan Allah SWT. karena selain kedua bekal yang
dimiliki oleh mereka sejak lahir, Allah juga telah memberikan petunjuk berupa
ajaran agama yang didalamnya berisikan tuntunan serta tujuan dari hidup mereka
di dunia.
Ibadah
mempunyai hubungan yang erat dengan aqidah. Antaranya :
1. Ibadah adalah hasil daripada aqidah yaitu
keimanan terhadap Allah sebenarnya yang telah membawa manusia untuk beribadat
kepada Allah swt.
2. Aqidah adalah asas penerimaan ibadah yaitu tanpa
aqidah perbuatan seseorang manusia bagaimana baik pun tidak akan diterima oleh
Allah swt.
3. Aqidah merupakan tenaga penggerak yang mendorong
manusia melakukan ibadat serta menghadapi segala cabaran dan rintangan.
Akidah
adalah merupakan pondasi utama kehidupan keislaman seseorang. Apabila pondasi
utamanya kuat, maka bangunan keimanan yang terealisasikan dalam bentuk amal
ibadah orang tersebut pun akan kuat pula.
Amal ibadah
tidak akan bisa benar tanpa dilandasi akidah yang benar. amal ibadah dinilai
benar apabila dilakukan hanya untuk Allah semata dengan ittiba’ Rasul SAW.
Manusia
diberi bekali akal pikiran agar dengan akal pikiran tersebut mereka dapat
membedakan mana yang hak dan mana yang batil, mempelajari tanda-tanda kekuasaan
Allah, menganalisa hakikat kehidupannya sehingga dia tahu arah dan tujuan
dirinya diciptakan di dunia. Akal pikiran dan perasaan inilah yang membedakan
manusia dengan makhluk-makhluk lain. Oelh karena itu manusia dipercaya untuk
menjadi khalifah Allah di Bumi.
Hubungan
aqidah dengan muamalah
Pola pikir, tindakan dan gagasan umat Islam hendaknya selalu bersendikan pada aqidah Islamiyah. Ungkapan “buah dari aqidah yang
benar (Iman) tidak lain adalah amal sholeh” harus menjadi spirit dan etos ummat
Islam. Pribadi yang mengaku muslim mestinya selalu menebar amal
shalih sebagai implementasi keimanannya di manapun mereka berada.
Tidak kurang 60 ayat Al Qur’an menerangkan korelasi antara keimanan yang benar
dengan amal sholeh ini. Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa perintah beriman
kepada Allah dan hari akhir selalu diikuti dengan perintah untuk melaksanakan
amal shalih. Inilah makna operatif dari ungkapan “al-Islamu ‘aqidatun wa jihaadun”,
bahwa kebenaran Islam itu harus diyakini sekaligus juga diperjuangkan
pengamalannya secara sungguh-sungguh dalam konteks kemaslahatan dan bebas dari
perilaku teror.
Apabila
aqidah telah dimiliki dan ibadah telah dijalankan oleh manusia, maka kedua hal
tersebut harus dijalankan dengan sebaik-baiknya, oleh karena itu diperlukan
adanya suatu peraturan yang mengatur itu semua. Aturan itu disebut Muamalah.
Muamalah adalah segala aturan islam yang mengatur hubungan antar sesama
manusia. Muamalah dikatakan berjalan baik apabila telah memiliki dampak sosial
yang baik. Untuk dapat mewujudkan aqidah yang kuat yaitu dengan cara ibadah
yang benar dan juga muamalah yang baik, maka diperlukan suatu adanya
Aqidah adalah pondasi keber-Islaman yang tak terpisahkan dari ajaran Islam
yang lain: akhlaq,
ibadah dan Muamalat. Aqidah yang kuat akan mengantarkan ibadah yang benar,
akhlaq yang terpuji dan muamalat yang membawa maslahat. Selain sebagai pondasi,
hubungan antara aqidah dengan pokok-pokok ajaran Islam yang lain bisa juga
bersifat resiprokal dan simbiosis. Artinya, ketaatan menuanaikan ibadah, berakhlaq
karimah, dan bermuamalah yang baik akan memelihara aqidah.
Dengan kata lain, ibadah adalah pelembagaan aqidah dalam konteks hubungan
antara makhkluq dengan Khaliq; akhlaq merupakan buah dari aqidah dalam
kehidupan yang etis dan egaliter; dan muamalah sebagai implementasi aqidah
dalam masyarakat yang bermartabahat dan menebar maslahat. Karena itu, agar
aqidah tumbuh dan berkembang, aqidah harus operatif dan fungsional. Di Indonesia kita
menyaksikan beberapa ormas Islam yang telah berhasil mengembangkan amal usaha
atau unit pelayanan umat seperti Panti sosial dan anak yatim, lembaga
pendidikan dan pondok pesantren, balai pengobatan dan rumah sakit, lembaga
pengumpul dan penyalur zakat serta lembaga-lembaga sosial keagamaan lainnya.
Lembaga atau unit pelayanan umat tersebut, meminjam istilah M. Amin Abdullah,
merupakan bentuk faith in action, buah keimanan
yang aktif dan salah satu bentuk pengejawantahan ‘tauhid sosial’ atau ‘theologi pembangunan’. Sayanya, tidak
sedikit buah faith in action tersebut yang
terjebak pada bebagai kepentingan mulai dari ekonomi hingga politik.
Agar tetap kokoh dan kuat serta menjadi penyangga seluruh sendi
keber-Islaman, aqidah harus dijaga, dipelihara dan dipupuk sehingga bisa hidup
subur dalam pribadi setiap Muslim. Pentingnya memelihara aqidah ini juga
tersirat dalam Sirrah Nabawiyah. Saat
membangun masyarakat Islam di Makkah dan Madidah selama 23 tahun Rasulullah
Muhammad SAW tidak kenal lelah membina aqidah umatnya. Mengingat pentingnya
aqidah ini bisa dimengerti bila setiap surat dalam Al Quran mengandung
pokok-pokok ajaran keimanan.
Di tengah pasar bebas nilai dan ideologi saat ini, upaya merevitalisasi
aqidah serasa memperoleh momentum. Mudah tergiurnya sebagian umat pada faham
atau aliran-aliran yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam merupakan
efek dari lemahnya aqidah mereka. Ketidak peduliaan sebagian umat Islam
terhadap kerusakan lingkungan dan kebobrokan moral juga indikasi rapuhnya bangunan aqidah.
Mulai memudarnya etos dan jiwa voluntarisme di kalangan umat dan semakin
menguatnya syahwat duniawi adalah konsekuensi logis dari redupnya aqidah.
Saatnya sekarang membenahi dan merevitalisasi aqidah agar umat memiliki pondasi
yang benar, kokoh dan fungsional. Dengan bekal ini faith in action bisa dilipatgandakan untuk
menghadirkan pesona Islam yang lebih “ihsan pada kemanusiaan.”
Ajaran islam yang mengatur prilaku manusia baik dalam kaitanya
sebagai makhluk dengan tuhannya maupun dalam kaitannya sebagai sesama mahluk,
dalam term fiqih atau ushul alfiqh disebut dengan syariah. Sesuai dengan
aspek yang diaturnya, syariah ini terbagi kepada dua yakni ibadah dan muamalah.
Ibadah adalah syariah yang mengatur hubungan antara manusia dengan tuhannya,
sedangkan muamalah adalah syariah yang mengatur hubungan antara sesama manusia.
Pada gilirannya kegiatan ekonomi sebagai salah satu bentuk dari hubungan antara
manusia ia bukan bagian dari aqidah, akhlaq dan ibadah melainkan bagian dari
muamalah. Namun demikian masalah ekonomi tidak lepas dari maspek aqidah, akhlak
maupun ibadah sebab dalam prespektif islam prilaku ekonomi harus selalu
diwarnai oleh nilai-nilai aqidah, aklak dan ibadah.[6]
Dr. Kaelany HD., MA mengatakan dalam bukunya, Islam Agama Universal, bahwa
ajaran Islam sangatlah luas. Ulama dengan berlandaskan hadist membagi ajaran
Islam tersebut dalam tiga pokok bahasan, yaitu Aqidah, Syari’ah, dan Akhlak.
Dalam hal ini, akan dibahas pengertian Aqidah serta Syari’ah (sebagai Ibadah
dan Muamalah), yang mana pengertian ini didapat dari berbagai sumber, yaitu
Al-qur’an , Hadist, dan berbagai resensi dari buku atau artikel.[7]
Aqidah
merupakan suatu istilah untuk menyatakan “kepercayaan” atau Keimanan yang teguh
serta kuat dari seorang mukmin yang telah mengikatkan diri kepada Sang
Pencipta. Makna dari keimanan kepada Allah adalah sesuatu yang berintikan
tauhid, yaitu berupa suatu kepercayaan, pernyataan, sikap mengesankan Allah,
dan mengesampingkan penyembahan selain kepada Allah.
Ajaran
mengenai aqidah ini merupakan tujuan utama Rasul diutus ke dunia, yang mana hal
ini dinyatakan dalam AL-qur’an, yang berbunyi:
“Dan Kami
tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu (Muhammad) melainkan Kami
wahyukan kepadanya, bahwasanya tiada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka
sembahlan olehmu sekalian akan Aku” (QS. 21: 25)
Akidah
adalah suatu ketetapan hati yang dimiliki seseorang, yang mana tidak ada factor
apa pun yang dapat mempengaruhi atau merubah ketetapan hati seseorang tersebut.
Hubungan Aqidah, Ibadah dan Akhlak
Aqidah sebagai dasar pendidikan akhlak / Dasar pendidikan akhlak bagi
seorang muslim adalah aqidah yang kokoh dan ibadah yang benar , Karena akhlak
tersarikan dari aqidah, aqidah pun terpancarkan melalui ibadah. karena
sesungguhnya aqidah yang kokoh senantiasa menghasilkan amal ataua ibadah dan ibadah
pun akan menciptakan akhlakul karimah. Oleh karena itu jika seorang beraqidah
dengan benar, niscahya akhlaknya pun akan benar, baik dan lurus. Begitu pula
sebaliknya, jika aqidah salah maka akhlaknya pun akan salah. Aqidah seseorang
akan benar dan lurus jika kepercayaan dan keyakinanya terhadap alam juga lurus
dan benar. Karena barang siapa mengetahui sang pencipta dengan benar, niscahya
ia akan dengan mudah berperilaku baik sebagaimana perintah allah. Sehingga ia
tidak mungkin menjauh bahkan meninggalkan perilaku-perilaku yang telah
ditetapkanya.
Pendidikan akhlak yang bersumber dari kaidah yang benar merupakan contoh
perilaku yang harus diikuti oleh manusia. Mereka harus mempraktikanya dalam
kehidupan mereka, karena hanya inilah yang menghantarkan mereka mendapatkan
ridha allah dan atau membawa mereka mendapatkan balasan kebaikan dari Allah.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa kesempurnaan iman seseorang terletak pada
kesempurnaan dan kebaikan akhlaknya. Sabda beliau:
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah mereka yang
paling bagus akhlaknya”. (HR. Muslim)
Dengan demikian, untuk melihat kuat atau lemahnya iman dapat diketahui
melalui tingkah laku (akhlak) seseorang, karena tingkah laku tersebut merupakan
perwujudan dari imannya yang ada di dalam hati. Jika perbuatannya baik,
pertanda ia mempunyai iman yang kuat; dan jika perbuatan buruk, maka dapat
dikatakan ia mempunyai Iman yang lemah. Muhammad al-Gazali mengatakan, iman
yang kuat mewujudkan akhlak yang baik dan mulia, sedang iman yang lemah mewujudkan
akhlak yang jahat dan buruk.
Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan bahwa iman yang kuat itu akan
melahirkan perangai yang mulia dan rusaknya akhlak berpangkal dari lemahnya
iman. Orang yang berperangai tidak baik dikatakan oleh Nabi sebagi orang yang kehilangan
iman. Beliau bersabda:
الحياء
والايمان قرناء جميعا فاذا رفع احدهما رفع الاخر (رواه الكاريم)
”Malu dan iman itu keduanya bergandengan, jika hilang salah satunya, maka
hilang pula yang lain”. (HR. Hakim)
KESIMPULAN
Aqidah merupakan suatu keyakinan hidup yang dimiliki oleh manusia.
Keyakinan hidup ini diperlukan manusia sebagai pedoman hidup untuk mengarahkan
tujuan hidupnya sebagai mahluk alam. aqidahlah Pondasi aktifitas manusia itu
tidak selamanya bisa tetap tegak berdiri, maka dibutuhkan adanya sarana untuk
memelihara pondasi yaitu ibadah. Ibadah merupakan bentuk pengabdian dari
seorang hamba kepada allah. Ibadah dilakukan dalam rangka mendekatkan diri
kepada allah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap allah.Ibadah
adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para
Rasul-Nya, merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk
yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling
tinggi. dan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa
Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Yang
ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.
Sedangkan Akhlak adalah salah satu dasar bagi pembentukan kepribadian
individu dan ruh stabilitas kehidupan ummat.
Aqidah sebagai dasar pendidikan akhlak. Dasar pendidikan akhlak bagi
seorang muslim adalah aqidah yang kokoh dan ibadah yang benar , Karena akhlak
tersarikan dari aqidah, aqidah pun terpancarkan melalui ibadah. karena
sesungguhnya aqidah yang kokoh senantiasa menghasilkan amal ataua ibadah dan
ibadah pun akan menciptakan akhlakul karimah. Oleh karena itu jika seorang
beraqidah dengan benar, niscahya akhlaknya pun akan benar, baik dan lurus.
Begitu pula sebaliknya, jika aqidah salah maka akhlaknya pun akan salah. Aqidah
seseorang akan benar dan lurus jika kepercayaan dan keyakinanya terhadap alam
juga lurus dan benar. Karena barang siapa mengetahui sang pencipta dengan
benar, niscahya ia akan dengan mudah berperilaku baik sebagaimana perintah
allah. Sehingga ia tidak mungkin menjauh bahkan meninggalkan perilaku-perilaku
yang telah ditetapkanya.
Komentar
Posting Komentar